Desa Wisata KAJII dan Besalen Gilang Lipura Jadi Lokasi Syuting Film Pendek Paniradya Keistimewaan, Angkat Budaya dan Kearifan Lokal Gilangharjo
Gilangharjo – Kalurahan Gilangharjo kembali menjadi pusat perhatian sebagai salah satu wilayah yang dipercaya menjadi lokasi produksi film pendek dalam Program Film Pendek Paniradya Keistimewaan DIY. Selama dua hari, Selasa–Rabu, 4–5 Agustus 2026, tim Tribun Jogja Video Production melaksanakan proses syuting di dua lokasi ikonik, yakni Desa Wisata KAJII Padukuhan Kadisoro dan Besalen Gilang Lipura, dua infrastruktur budaya yang dibangun melalui Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan dukungan Paniradya Keistimewaan DIY.
Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan surat permohonan izin yang diajukan oleh Tribun Jogja Video Production kepada pengelola Desa Wisata KAJII. Proses pengambilan gambar dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga selesai dengan memanfaatkan berbagai sudut lokasi yang dinilai mampu merepresentasikan wajah budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat Kalurahan Gilangharjo.
Pemilihan Desa Wisata KAJII dan Besalen Gilang Lipura bukan tanpa alasan. Keduanya merupakan hasil pembangunan yang didukung Dana Keistimewaan DIY sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya, pengembangan desa wisata, serta penyediaan ruang aktivitas masyarakat berbasis kebudayaan. Kehadiran kedua infrastruktur tersebut menjadi bukti nyata pemanfaatan Dana Keistimewaan dalam mendukung pelestarian nilai-nilai budaya sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Film pendek ini dirancang untuk mengangkat kekayaan budaya, kehidupan masyarakat, serta nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di Kalurahan Gilangharjo. Melalui media audio visual, diharapkan masyarakat luas dapat lebih mengenal potensi budaya yang dimiliki Gilangharjo sekaligus memperkuat citra daerah sebagai kalurahan yang aktif melestarikan tradisi dan mengembangkan pariwisata budaya.
Menariknya, proses produksi film tidak hanya melibatkan kru profesional, tetapi juga memberdayakan potensi lokal sebagai bagian penting dalam proses kreatif. Lebih dari 15 warga turut ambil bagian sebagai figuran dan pemeran pendukung (extras). Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pemuda, orang dewasa hingga lansia, baik laki-laki maupun perempuan. Kehadiran masyarakat dalam proses syuting memberikan nuansa yang lebih alami sekaligus memperlihatkan kehidupan sosial masyarakat Gilangharjo secara autentik.
Keterlibatan warga tersebut menjadi wujud kolaborasi antara industri kreatif dengan masyarakat desa. Selain mendukung jalannya produksi, para figuran juga berperan dalam menghadirkan ekspresi kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari aktivitas budaya, interaksi sosial, hingga suasana pedesaan yang menjadi ciri khas Kalurahan Gilangharjo. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan karya visual yang lebih hidup dan merepresentasikan identitas lokal secara utuh.
Selama proses produksi, tim Tribun Jogja Video Production melakukan pengambilan gambar di berbagai titik strategis, baik di kawasan Desa Wisata KAJII maupun Besalen Gilang Lipura. Lanskap pedesaan yang asri, bangunan bernuansa tradisional, ruang-ruang aktivitas budaya, serta interaksi masyarakat menjadi elemen penting dalam membangun alur cerita sekaligus memperkuat visualisasi nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta yang hidup di tengah masyarakat.
Produser Tribun Jogja Video Production, Vidyand Eggy Prazoga, menyampaikan bahwa film pendek ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan potensi budaya Yogyakarta kepada masyarakat yang lebih luas melalui pendekatan visual yang menarik dan mudah diterima berbagai kalangan.
Selain menampilkan panorama desa, produksi ini juga diharapkan mampu mendokumentasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi, semangat gotong royong, serta warisan budaya yang menjadi ciri khas Kalurahan Gilangharjo. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, film ini menjadi ruang partisipasi warga dalam mempromosikan daerahnya sendiri melalui media audio visual.
Pengelola Desa Wisata KAJII menyambut baik kegiatan tersebut sebagai bentuk kolaborasi positif antara media kreatif dengan pengelola desa wisata. Kehadiran tim produksi diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap promosi destinasi wisata berbasis budaya yang selama ini terus dikembangkan bersama masyarakat, sekaligus memperkenalkan berbagai hasil pembangunan berbasis Dana Keistimewaan yang telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui film pendek ini, Desa Wisata KAJII dan Besalen Gilang Lipura tidak hanya diperkenalkan sebagai lokasi wisata dan ruang budaya, tetapi juga sebagai simbol pemanfaatan Dana Keistimewaan DIY yang mampu menghadirkan ruang pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Dokumentasi visual yang dihasilkan diharapkan menjadi media promosi yang efektif dalam memperluas jangkauan wisata budaya Kalurahan Gilangharjo sekaligus menginspirasi masyarakat untuk terus menjaga, melestarikan, dan membanggakan warisan budaya yang dimiliki.