Persiapan DKCF 2026, Panitia Dialog dengan Kelompok Tani Sedyo Makmur Bahas Pemanfaatan Lahan Sawah

15 September 2026
Administrator
Dibaca 3 Kali
Persiapan DKCF 2026, Panitia Dialog dengan Kelompok Tani Sedyo Makmur Bahas Pemanfaatan Lahan Sawah

GILANGHARJO – Persiapan pelaksanaan Dewi KAJII Culture Fest (DKCF) 2026 terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Salah satu tahapan penting dalam persiapan tersebut adalah memastikan kesiapan kawasan yang akan digunakan sebagai lokasi kegiatan, termasuk lahan persawahan yang saat ini sebagian masih belum memasuki masa panen.

Untuk membahas hal tersebut, perwakilan panitia pelaksana DKCF melakukan koordinasi dan dialog bersama Kelompok Tani Sedyo Makmur Kadisoro pada Senin, 14 September 2026. Pertemuan berlangsung di Sekretariat Kelompok Tani Sedyo Makmur Kadisoro dan dihadiri oleh seluruh anggota kelompok tani serta perwakilan panitia pelaksanaan DKCF.

Pertemuan menjadi ruang bersama untuk membicarakan rencana pemanfaatan sebagian kawasan persawahan sebagai lokasi kegiatan dalam rangkaian Dewi KAJII Culture Fest. Area tersebut direncanakan akan digunakan untuk lomba layangan sekaligus menjadi kawasan panggung kesenian yang menjadi salah satu bagian dari rangkaian kegiatan budaya masyarakat Kadisoro.

Koordinasi dengan kelompok tani dilakukan karena sebagian lahan yang masuk dalam rencana kawasan kegiatan masih terdapat tanaman yang belum dipanen. Kondisi tersebut membuat aspek waktu menjadi hal yang perlu diperhitungkan secara matang agar persiapan kegiatan dapat berjalan tanpa mengabaikan proses pertanian yang sedang berlangsung.

Dalam dialog tersebut, panitia menyampaikan gambaran mengenai kebutuhan kawasan untuk pelaksanaan kegiatan, sementara anggota kelompok tani memberikan masukan terkait kondisi lahan serta waktu yang memungkinkan untuk dilakukan penataan. Komunikasi dua arah ini menjadi bagian penting untuk mencari titik temu antara kebutuhan pelaksanaan kegiatan dengan kepentingan para petani.

Ketua Kelompok Tani Sedyo Makmur Kadisoro, Siswantya, menyampaikan bahwa koordinasi sejak awal diperlukan agar rencana pemanfaatan lahan dapat dipersiapkan bersama-sama. Menurutnya, keberadaan lahan pertanian tetap menjadi perhatian utama, sementara kegiatan budaya dapat dilaksanakan dengan pengaturan waktu dan teknis yang baik.

“Yang terpenting adalah komunikasi antara panitia dan kelompok tani. Karena ada lahan yang masih belum panen, tentu perlu dibicarakan waktunya agar kegiatan bisa berjalan dengan baik dan tidak mengganggu proses pertanian warga,” ujar Siswantya.

Ia menambahkan, keterlibatan kelompok tani dalam persiapan kegiatan juga menjadi bentuk kebersamaan masyarakat. Lahan pertanian yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga dapat dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan masyarakat setelah melalui koordinasi dan kesepakatan bersama.

Rencana menghadirkan lomba layangan di kawasan persawahan juga diharapkan memberikan suasana yang khas bagi Dewi KAJII Culture Fest. Hamparan lahan terbuka dengan latar kawasan pertanian menjadi ruang yang dinilai sesuai untuk kegiatan layangan, sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat dan pengunjung yang hadir.

Sementara itu, keberadaan panggung kesenian di kawasan tersebut akan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan potensi seni dan budaya lokal. Dengan demikian, kawasan kegiatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya acara, tetapi juga menggambarkan keterkaitan antara kehidupan masyarakat, pertanian, seni, dan tradisi lokal.

Bagi panitia DKCF, koordinasi dengan Kelompok Tani Sedyo Makmur menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh persiapan dilakukan secara partisipatif. Pemanfaatan ruang masyarakat untuk kegiatan budaya diharapkan tidak dilakukan secara sepihak, tetapi melalui komunikasi dengan warga dan kelompok yang memiliki kepentingan langsung terhadap kawasan tersebut.

Pertemuan pada 14 September 2026 tersebut juga menjadi langkah awal untuk mematangkan persiapan teknis di lapangan. Setelah kondisi dan waktu panen dapat dipastikan, panitia selanjutnya dapat menyesuaikan tahapan penataan kawasan, kebutuhan panggung, akses kegiatan, hingga pengaturan area lomba layangan.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat Dewi KAJII Culture Fest yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari penyelenggaraan kegiatan. Tidak hanya kelompok seni dan pelaku wisata, kelompok tani juga memiliki peran dalam membentuk ruang kegiatan yang mencerminkan karakter kehidupan masyarakat Desa Wisata Kadisoro Nyawiji.

Melalui dialog antara panitia dan Kelompok Tani Sedyo Makmur, persiapan DKCF diharapkan dapat berjalan dengan mengedepankan gotong royong dan komunikasi. Kegiatan budaya dapat berlangsung, sementara kepentingan pertanian dan hak para petani tetap menjadi bagian yang diperhatikan dalam setiap tahapan persiapan.

Dengan semakin dekatnya pelaksanaan Dewi KAJII Culture Fest, koordinasi lintas kelompok masyarakat akan terus dilakukan. Dari lahan pertanian hingga panggung kesenian, setiap ruang dipersiapkan sebagai bagian dari sebuah perhelatan yang diharapkan mampu memperkenalkan potensi budaya, wisata, pertanian, dan kehidupan masyarakat Kadisoro kepada masyarakat yang lebih luas.