Ketua FPRB Gilangharjo Terlibat dalam Survei Kerentanan Bangunan di Bantul

11 September 2026
Administrator
Dibaca 4 Kali
Ketua FPRB Gilangharjo Terlibat dalam Survei Kerentanan Bangunan di Bantul

GILANGHARJO – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi di Kabupaten Bantul terus diperkuat melalui kegiatan penilaian awal kerentanan bangunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan sekitar 40 enumerator untuk melakukan survei lapangan terhadap bangunan warga yang tersebar di 17 Kapanewon di Kabupaten Bantul.

Penilaian tersebut menyasar sekitar 1.000 bangunan satu lantai milik masyarakat. Survei lapangan dilaksanakan selama lima hari, mulai 11 hingga 15 September 2026, dengan melibatkan berbagai unsur yang memiliki peran dalam bidang kebencanaan dan teknis bangunan.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Bimbingan Teknis (Bimtek) Penilaian Awal Kerentanan Bangunan yang sebelumnya dilaksanakan pada 8–10 September 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Bimtek menjadi tahap pembekalan bagi para enumerator sebelum melaksanakan pengumpulan data dan penilaian kondisi bangunan secara langsung di wilayah masing-masing.

Para enumerator berasal dari unsur BPBD Kabupaten Bantul, relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta mahasiswa Teknik Sipil UMY. Mereka kemudian dibagi untuk melakukan survei di wilayah 17 Kapanewon dengan pola pendampingan yang melibatkan unsur relawan, akademisi, dan pemerintah daerah.

Dari unsur FPRB tersebut, Kapanewon Pandak diwakili oleh Gilang Priyambodo, Ketua FPRB Kalurahan Gilangharjo. Gilang mengikuti rangkaian bimtek sekaligus terlibat langsung dalam pelaksanaan survei lapangan di wilayah Kapanewon Pandak.

Dalam pelaksanaan survei, setiap perwakilan FPRB didampingi oleh satu mahasiswa Teknik Sipil UMY dan satu personel BPBD Kabupaten Bantul. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan proses pengumpulan data di lapangan dapat berjalan secara terarah sesuai dengan pembekalan dan instrumen penilaian yang telah diberikan.

Keterlibatan Ketua FPRB Gilangharjo dalam kegiatan ini menjadi bagian dari peran relawan kebencanaan di tingkat kalurahan dalam mendukung agenda pengurangan risiko bencana. Kedekatan relawan dengan masyarakat dan lingkungan setempat menjadi salah satu unsur pendukung dalam proses pengumpulan informasi kondisi bangunan di wilayah.

Penilaian dilakukan terhadap kondisi bangunan rumah tinggal sederhana satu lantai yang telah ditentukan sebagai objek survei. Para enumerator melakukan pengamatan secara visual terhadap kondisi bangunan sekaligus melakukan wawancara dengan pemilik rumah untuk memperoleh informasi yang diperlukan.

Data hasil pengamatan dan wawancara kemudian dicatat menggunakan aplikasi Survey123. Penggunaan sistem tersebut diharapkan dapat membantu proses dokumentasi dan pengelolaan data secara lebih terstruktur sehingga hasil survei dapat digunakan sebagai bahan analisis kondisi kerentanan bangunan.

Penelaah Teknis Kebijakan BPBD Kabupaten Bantul, Malichah Kurnia Pratiwi, mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan bimtek hingga pelaksanaan survei lapangan. Para enumerator diharapkan dapat menjalankan tugas dengan penuh semangat dan tanggung jawab sehingga data yang diperoleh benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam pembekalan tersebut, para peserta juga diingatkan untuk menjaga profesionalitas selama berinteraksi dengan masyarakat. Hal tersebut penting karena proses survei tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis bangunan, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang baik dengan warga sebagai pemilik atau penghuni bangunan yang menjadi objek penilaian.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Dosen Teknik Sipil UMY, Hakas Prayuda, ST, M.Eng, Ph.D. Menurutnya, kolaborasi antara BNPB, BPBD Kabupaten Bantul, relawan FPRB, dan mahasiswa UMY memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan mitigasi bencana di tengah masyarakat.

Keterlibatan mahasiswa Teknik Sipil UMY dalam kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dalam kondisi nyata di lapangan. Melalui proses tersebut, mahasiswa dapat melihat secara langsung berbagai kondisi bangunan masyarakat sekaligus memahami pentingnya aspek konstruksi dalam pengurangan risiko bencana.

Kolaborasi antara unsur pemerintah, akademisi, dan relawan diharapkan mampu menghasilkan data penilaian yang berkualitas. Data tersebut nantinya dapat menjadi salah satu bahan untuk memahami gambaran awal kondisi kerentanan bangunan di Kabupaten Bantul dan mendukung penyusunan langkah mitigasi yang sesuai.

Bimtek sebelumnya secara resmi ditutup oleh Aminudin Hamzah, Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat Mitigasi Bencana BNPB. Setelah rangkaian pembekalan selesai, para enumerator kemudian diterjunkan untuk melaksanakan survei lapangan di wilayah masing-masing selama lima hari.

Bagi Kalurahan Gilangharjo, keterlibatan Gilang Priyambodo sebagai Ketua FPRB Gilangharjo dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi relawan kalurahan dalam mendukung penguatan kesiapsiagaan bencana di tingkat wilayah. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat menjadi tambahan kapasitas bagi relawan dalam menjalankan peran pengurangan risiko bencana bersama masyarakat.

Kegiatan penilaian awal kerentanan bangunan ini pada akhirnya diharapkan menghasilkan data yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi bangunan rumah tinggal masyarakat di Kabupaten Bantul. Hasil tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan sejak dini, terutama dalam menghadapi potensi gempa bumi.

Penguatan mitigasi bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur hingga tingkat masyarakat. Melalui kolaborasi antara BNPB, BPBD, perguruan tinggi, FPRB, dan warga, upaya membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko bencana dapat terus dikembangkan, termasuk di wilayah Kalurahan Gilangharjo.