Muhana Syahroni, Pendidik yang Menjaga Semangat Koes Plus Tetap Bergema di Gilangharjo

13 Juli 2026
Administrator
Dibaca 3 Kali
Muhana Syahroni, Pendidik yang Menjaga Semangat Koes Plus Tetap Bergema di Gilangharjo

Gilangharjo, Di tengah derasnya arus musik modern yang terus berkembang, masih ada sosok yang dengan setia menjaga dan mengenalkan karya-karya musik legendaris Indonesia kepada masyarakat. Salah satunya adalah Muhana Syahroni, warga Padukuhan Kalongan RT 06, Daleman, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul.

Berprofesi di bidang pendidikan, Muhana Syahroni memandang seni bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dalam membangun karakter dan keseimbangan hidup. Sejak tahun 2007, ia mulai menekuni musik Koes Plus, sebuah genre yang hingga kini menjadi identitas sekaligus media pengabdian budaya yang terus ia jalani.

Bagi Muhana, kecintaannya terhadap musik Koes Plus berawal dari sesuatu yang sederhana. Saat masih muda, ia gemar mendengarkan lagu-lagu Koes Plus melalui radio. Melodi yang mudah dinikmati dipadukan dengan lirik yang sarat nasihat, nilai kehidupan, cinta tanah air, dan semangat pantang menyerah membuatnya merasa musik tersebut memiliki kekuatan yang tidak lekang oleh waktu.

"Musik menjadi penyeimbang kehidupan sehari-hari yang penuh dengan keseriusan. Seni membantu menjaga keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan," ungkapnya.

Berbekal kecintaan tersebut, ia mulai mempelajari berbagai alat musik yang menjadi ciri khas kelompok Koes Plus, mulai dari drum, gitar, hingga piano atau keyboard. Di antara berbagai instrumen tersebut, keyboard menjadi bidang yang paling ia kuasai dan hingga kini menjadi keahlian utamanya dalam setiap penampilan.

Perjalanan belajar yang dijalaninya tidak berlangsung melalui pendidikan formal musik, melainkan melalui proses belajar mandiri yang dipadukan dengan bimbingan dari sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya, yakni kakak kandungnya, Muh. Hasyim, yang kini juga berdomisili di Padukuhan Karanggede, Kalurahan Gilangharjo. Dari sang kakak, Muhana tidak hanya belajar memainkan alat musik, tetapi juga memahami filosofi bermusik, kedisiplinan, serta kecintaan terhadap karya-karya Koes Plus.

Menurutnya, untuk mulai menguasai teknik dasar memainkan keyboard dibutuhkan latihan yang konsisten selama kurang lebih satu bulan. Namun, untuk benar-benar mampu menyampaikan rasa dan karakter lagu kepada penonton, proses belajarnya berlangsung seumur hidup melalui pengalaman tampil di berbagai kesempatan.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika kelompok musiknya tampil di Kampung Benyo, Kalurahan Wijirejo. Antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, memberikan kesan mendalam bahwa musik lintas generasi masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Bagi Muhana Syahroni, musik Koes Plus bukan sekadar nostalgia. Ia melihat setiap lagu sebagai media pendidikan karakter. Banyak karya Koes Plus yang menurutnya menyampaikan pesan moral yang relevan hingga saat ini, seperti Jangan Putus Asa, Ojo Dumeh, Jo Podo Nelongso, Jangan Bimbang dan Ragu, hingga lagu-lagu bertema nasionalisme seperti Kolam Susu dan rangkaian lagu Nusantara. Melalui lagu-lagu tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga tuntunan dalam menjalani kehidupan.

Komitmen tersebut diwujudkannya melalui berbagai kegiatan seni, salah satunya dengan menginisiasi dan mengadakan pertunjukan maupun kontes musik Koes Plus di kawasan Taman Kuliner Jodogkarta. Kegiatan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat, tidak hanya dari Kalurahan Gilangharjo, tetapi juga dari berbagai wilayah di sekitarnya. Menurutnya, pertunjukan seni akan lebih bermakna apabila mampu menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus media pelestarian budaya.

Selain aktif bermusik, Muhana juga memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni budaya di Kalurahan Gilangharjo. Ia menilai bahwa kondisi seni budaya saat ini sudah berkembang cukup baik. Berbagai komunitas seni seperti tari, karawitan, reog, kethoprak, hingga musik tradisional mulai tumbuh dan mendapatkan ruang untuk berkembang. Meski demikian, ia berharap frekuensi penyelenggaraan kegiatan seni budaya dapat terus ditingkatkan agar semakin banyak masyarakat yang terlibat sebagai pelaku, bukan sekadar penonton.

Baginya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan. Yang jauh lebih penting adalah proses regenerasi. Selama ini ia aktif memberikan motivasi kepada generasi muda agar mencintai budaya lokal melalui latihan bersama berbagai kesenian, seperti karawitan, campursari, keroncong, musik kenthongan, pranata adicara berbahasa Jawa, tata cara berpakaian adat Jawa yang benar, hingga membiasakan penggunaan batik motif Yogyakarta dalam berbagai kesempatan.

Muhana meyakini bahwa budaya tidak hanya diwujudkan melalui seni pertunjukan, tetapi juga melalui sikap hidup sehari-hari. Nilai-nilai seperti unggah-ungguh, sopan santun, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi sesama, rendah hati, tekun, sabar, serta menjaga tata krama merupakan warisan budaya yang harus terus ditanamkan kepada generasi muda.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya melestarikan seni budaya lokal. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah kalurahan dapat terus memberikan dukungan melalui penyelenggaraan pelatihan seni secara berkelanjutan, membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas gamelan yang dimiliki Kalurahan Gilangharjo, serta menyediakan ruang pertunjukan seni secara rutin agar kreativitas masyarakat, khususnya kaum muda, dapat terus berkembang.

Muhana optimistis masa depan seni budaya di Gilangharjo akan semakin cerah. Menurutnya, keberadaan sarana yang semakin memadai, dukungan pemerintah kalurahan, serta antusiasme generasi muda dalam berbagai cabang seni menjadi modal besar untuk menjaga keberlangsungan budaya lokal di masa depan.

Di penghujung wawancara, Muhana Syahroni menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

"Silakan generasi muda mencintai dan menggeluti seni budaya lokal. Budaya adalah aset dan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Jangan sampai warisan yang kita miliki justru diakui oleh bangsa lain karena kita tidak menjaganya."

Baginya, menjaga seni dan budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi, melainkan menjaga identitas bangsa. Selama masih ada masyarakat yang mau belajar, berkarya, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya, maka seni akan terus hidup dan menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Gilangharjo.