Penulis Naskah dan Seniman Kethoprak Muda Gilangharjo yang Menjaga Nyala Tradisi

11 Juni 2026
Administrator
Dibaca 75 Kali
Penulis Naskah dan Seniman Kethoprak Muda Gilangharjo yang Menjaga Nyala Tradisi

Gilangharjo, Di tengah pesatnya perkembangan hiburan modern, tidak banyak generasi muda yang memilih menekuni seni pertunjukan tradisional. Namun bagi Deni Setiyawan, seni kethoprak bukan sekadar warisan budaya yang perlu dikenang, melainkan sebuah ruang kreativitas yang harus terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pria kelahiran tahun 1993 yang tinggal di Padukuhan Kadek Rowo RT 05, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak ini dikenal sebagai penulis naskah kethoprak sekaligus pengelola manajemen produksi pertunjukan kethoprak. Melalui berbagai karya dan keterlibatannya dalam dunia seni pertunjukan, Deni menjadi salah satu representasi generasi muda yang aktif menjaga keberlangsungan seni tradisional di Kabupaten Bantul.

Perjalanan Deni di dunia kethoprak dimulai pada tahun 2013. Menariknya, ketertarikannya terhadap kesenian ini berawal dari rasa penasaran terhadap sejarah keluarganya sendiri.

"Awalnya saya benar-benar tidak tahu kethoprak itu apa. Sampai suatu hari saya melihat album foto keluarga di rumah. Dari situ saya mengetahui bahwa simbah dan bapak saya ternyata merupakan pelaku kethoprak lokal di tingkat dusun. Saya kemudian mencari tahu lebih jauh dan menemukan bahwa kethoprak adalah kesenian yang sangat menarik, tetapi saat ini sudah tidak semasif dulu. Dari situlah saya tergerak untuk ikut melestarikannya," kenang Deni.

Rasa ingin tahu tersebut berkembang menjadi komitmen yang nyata. Pada tahun 2013, Deni bersama sejumlah warga berhasil menghidupkan kembali kelompok kethoprak di Padukuhan Kadek Rowo yang telah vakum lebih dari sepuluh tahun. Saat itu, ia memberanikan diri menulis naskah sendiri dengan bantuan para sesepuh kampung dan sekaligus menjadi sutradara pertunjukan.

Lakon berjudul "Suminten Edan" menjadi karya pertama yang dipentaskan sebagai penanda bangkitnya kembali aktivitas kethoprak di Kadek Rowo.

Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia seni pertunjukan tradisional. Dengan semangat belajar yang tinggi, Deni terus memperdalam pemahaman mengenai teknik pementasan, penulisan naskah, hingga pengelolaan produksi pertunjukan.

Perkembangannya semakin terlihat ketika pada tahun 2015 ia dipercaya menjadi pemain dalam Festival Kethoprak Antar Kapanewon se-Kabupaten Bantul di bawah naungan Forum Komunikasi Ketoprak Bantul (FKKB) Pandak.

Pengalaman tersebut membuka kesempatan yang lebih luas. Pada tahun 2019, Deni kembali dipercaya menjadi bagian dari kontingen Kabupaten Bantul dalam Festival Kethoprak Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan di bawah koordinasi FKKB Kabupaten Bantul.

Selama perjalanan berkesenian, Deni banyak belajar dari sejumlah tokoh yang menjadi inspirasi dan sumber pengetahuan baginya. Di antaranya adalah Bondan Nusantara, Dwi CP, serta Sudarmanto "Gereh Pethek", yang menurutnya memiliki pengaruh besar dalam membentuk wawasan dan pemahamannya mengenai dunia kethoprak.

Dari proses belajar yang berlangsung selama kurang lebih lima tahun, Deni menemukan bidang yang menjadi kekuatan utamanya, yakni penulisan naskah dan manajemen produksi pertunjukan kethoprak.

Kemampuan tersebut kemudian membawanya pada berbagai pencapaian yang membanggakan. Salah satu prestasi paling berkesan adalah ketika dipercaya sebagai Pimpinan Produksi Kontingen Kethoprak Kabupaten Bantul sejak tahun 2021 hingga sekarang.

Di bawah kepemimpinannya, Kontingen Kethoprak Kabupaten Bantul berhasil meraih prestasi gemilang dalam Festival Kethoprak Tingkat DIY. Dari lima kali keikutsertaan selama lima tahun berturut-turut, kontingen yang dipimpinnya berhasil meraih Juara I sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 2021, 2022, dan 2025.

Bagi Deni, keberhasilan tersebut bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga bukti bahwa seni tradisional masih mampu bersaing dan mendapat tempat di tengah masyarakat apabila dikelola dengan serius dan kreatif.

Selain sukses dalam manajemen produksi, Deni juga aktif menghasilkan karya naskah kethoprak yang mendapat apresiasi luas. Pada tahun 2023, naskah berjudul "Klilip Mataram" berhasil masuk lima besar dalam Lomba Penulisan Naskah Kethoprak Tingkat DIY.

Prestasi tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam karier kepenulisannya. Tidak berhenti di sana, pada tahun 2025 ia kembali menghasilkan karya naskah berjudul "Ampak-ampak Menoreh" yang digunakan dalam Festival Kethoprak Antar Kapanewon.

Bagi Deni, menulis naskah bukan sekadar menyusun dialog dan alur cerita. Lebih dari itu, menulis merupakan upaya untuk menjaga relevansi kethoprak dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi ruh dari kesenian tersebut.

Di usianya yang masih relatif muda, Deni menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan oleh generasi tua. Justru keterlibatan anak muda menjadi kunci penting agar kesenian tradisional tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Melalui karya-karya yang ditulisnya, berbagai produksi pertunjukan yang dikelolanya, serta dedikasinya dalam membina regenerasi pelaku seni, Deni terus membuktikan bahwa kethoprak masih memiliki masa depan yang cerah.

Tidak hanya aktif berkarya di atas panggung dan di balik layar produksi, Deni Setiyawan juga memiliki perhatian besar terhadap masa depan seni dan budaya di Kalurahan Gilangharjo. Menurutnya, kondisi seni budaya di Gilangharjo saat ini masih memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang, meskipun perlu adanya penyegaran dan penguatan kembali berbagai kegiatan kesenian yang beberapa tahun terakhir tidak lagi semasif pada masa-masa sebelumnya.

Sebagai pelaku seni, Deni mengambil peran dengan terus mendorong regenerasi pelaku kethoprak. Ia aktif mengenalkan kethoprak kepada generasi muda, memberikan ruang bagi munculnya talenta-talenta baru, serta mengorbitkan pelaku-pelaku seni yang memiliki minat dan kemampuan dalam dunia pertunjukan tradisional. Baginya, keberlangsungan sebuah kesenian tidak hanya ditentukan oleh kualitas pertunjukan, tetapi juga oleh keberhasilan menghadirkan generasi penerus yang siap melanjutkan estafet budaya.

Dalam pandangannya, nilai-nilai budaya yang paling penting untuk diwariskan kepada generasi muda bukan hanya keterampilan berkesenian, melainkan juga sikap hidup yang terkandung di dalamnya. Nilai sopan santun, unggah-ungguh, tata krama, serta penghormatan kepada sesama merupakan bagian dari kearifan budaya Jawa yang harus tetap dijaga di tengah perubahan zaman.

Deni menilai bahwa kesenian kethoprak merupakan salah satu warisan budaya yang perlu mendapatkan perhatian lebih agar tetap lestari. Menurutnya, di dalam kethoprak tersimpan banyak pelajaran berharga yang relevan dengan kehidupan masyarakat hingga saat ini. Mulai dari penggunaan tata bahasa Jawa yang baik dan benar, pemahaman tentang unggah-ungguh dalam pergaulan, hingga nilai-nilai sejarah dan filosofi kehidupan yang diwariskan melalui berbagai lakon yang dipentaskan.

"Sebenarnya kethoprak bukan hanya hiburan. Di dalamnya ada pendidikan karakter, sejarah, etika, bahkan pelajaran tentang bagaimana seseorang bersikap dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya.

Lebih jauh, Deni meyakini bahwa seni dan budaya memiliki manfaat besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Selain menjadi sarana hiburan dan ekspresi kreatif, seni budaya juga berperan dalam membentuk karakter masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran akan jati diri bangsa. Melalui seni budaya, masyarakat dapat memahami akar sejarah dan identitasnya sehingga tidak mudah kehilangan arah di tengah derasnya pengaruh globalisasi.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi dalam pelestarian budaya saat ini tidaklah ringan. Perkembangan teknologi yang sangat pesat membuka akses informasi tanpa batas dan mempercepat masuknya budaya asing ke berbagai lapisan masyarakat. Kondisi tersebut sering kali memunculkan stigma bahwa budaya lokal dianggap kuno, kaku, atau tidak lagi relevan dengan kehidupan generasi muda.

Namun bagi Deni, tantangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerah. Justru perkembangan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengenalkan, mempromosikan, dan mengembangkan budaya lokal agar mampu menjangkau generasi yang lebih luas.

Melalui berbagai karya, aktivitas produksi pertunjukan, dan upaya regenerasi yang dilakukannya, Deni berharap seni budaya di Gilangharjo dapat kembali tumbuh dengan lebih kuat dan mampu menjadi kebanggaan masyarakat. Ia meyakini bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas para seniman, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Kepada generasi muda, Deni berpesan agar tidak memandang budaya hanya sebagai peninggalan masa lalu.

"Budaya bukan sekadar warisan, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga. Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli. Kita harus mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak kehilangan jati diri. Manfaatkan pesatnya perkembangan teknologi untuk memajukan dan mempromosikan budaya serta kearifan lokal yang kita miliki."

Pesan tersebut menjadi cerminan semangat yang selama ini dipegang Deni Setiyawan: menjaga tradisi tanpa menolak perubahan, merawat budaya tanpa meninggalkan kemajuan, serta memastikan bahwa kethoprak tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini maupun masa depan.

Kisah perjalanan Deni Setiyawan menjadi inspirasi bahwa kecintaan terhadap budaya dapat tumbuh dari hal-hal sederhana, bahkan dari sebuah album foto keluarga yang membuka jalan menuju pengabdian panjang dalam dunia seni. Dengan semangat belajar, keberanian untuk berkarya, dan komitmen menjaga tradisi, ia berhasil menjadi salah satu tokoh muda yang turut menjaga nyala api kethoprak agar tetap hidup di Kalurahan Gilangharjo, Kabupaten Bantul, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.