Anisa Mulia Istiqomah, Sinden Muda Tegalurung yang Menjaga Warisan Karawitan Jawa
Gilangharjo – Di tengah derasnya arus budaya modern yang semakin mendominasi ruang hiburan masyarakat, masih ada generasi muda yang memilih untuk menekuni dan melestarikan seni tradisi. Salah satunya adalah Anisa Mulia Istiqomah, sinden muda asal Padukuhan Tegalurung, Kalurahan Gilangharjo, yang hingga kini terus mengabdikan diri dalam dunia seni karawitan.
Perempuan yang tinggal di RT 02 Tegalurung ini mulai mengenal seni karawitan sejak kecil. Ketertarikannya tumbuh dari lingkungan keluarga, khususnya ketika ia sering melihat dan mendengar sang kakek memainkan gamelan serta melantunkan tembang Jawa.
“Sejak kecil saya sering melihat dan mendengar mbah kakung nabuh gamelan dan nembang. Dari situ muncul rasa penasaran terhadap seni karawitan,” ungkap Anisa.
Rasa penasaran tersebut kemudian membawanya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan saat duduk di bangku SMP. Dari kegiatan itu, kecintaannya terhadap seni tradisi Jawa semakin tumbuh. Bahkan, ia aktif mengikuti berbagai lomba macapat sebagai sarana belajar dan mengasah kemampuan.
Keseriusannya dalam menekuni bidang seni kemudian dibuktikan dengan melanjutkan pendidikan di SMKI Yogyakarta pada Jurusan Seni Karawitan. Di sekolah tersebut, Anisa mulai mendalami teknik sindhenan dan berbagai aspek karawitan secara lebih terstruktur. Namun, pandemi Covid-19 yang melanda pada tahun 2020 sempat menjadi tantangan tersendiri karena proses pembelajaran tidak dapat berjalan secara optimal.
Tidak ingin berhenti berkembang, setelah lulus dari SMKI ia melanjutkan pendidikan di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSBY). Di sana ia memperdalam kemampuan menabuh gamelan serta teknik olah vokal sindhenan. Bekal ilmu dan pengalaman tersebut kemudian mengantarkannya melanjutkan pendidikan Strata 1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang masih dijalaninya hingga saat ini.
Dalam perjalanan berkesenian, Anisa mendapatkan banyak bimbingan dari para guru dan dosen yang berpengaruh terhadap perkembangan kemampuannya. Dua sosok yang menurutnya memiliki peran besar adalah Ibu Tri Suhatmini dan Bapak Trustho, yang senantiasa membimbing serta memantau perkembangan kemampuan menabuh maupun olah vokalnya.
Kemampuan utama yang menjadi keunggulan Anisa adalah olah vokal sindhenan. Selain itu, ia juga memiliki keterampilan memainkan instrumen gender. Untuk mencapai kemampuan tersebut, ia membutuhkan proses belajar yang panjang, bahkan hingga lebih dari sepuluh tahun dan masih terus berlanjut sampai sekarang.
Berbagai pengalaman berharga telah ia raih selama berkecimpung di dunia seni. Salah satu yang paling berkesan adalah keterlibatannya dalam Home Concert Heritage 2025, sebuah pertunjukan kolaboratif yang melibatkan mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta angkatan 2022. Selain itu, ia juga tampil dalam Gangsa Dwipantara Festival (GDF) 2025 di ISI Surakarta, sebuah pengalaman pertamanya tampil di kampus seni ternama tersebut dalam kolaborasi antara mahasiswa dan dosen karawitan.
Prestasi lainnya adalah ketika dipercaya menjadi instruktur gamelan dalam program Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang difasilitasi melalui AKNSBY. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting sekaligus bentuk kepercayaan atas kompetensi yang dimilikinya.
Menurut Anisa, perkembangan seni dan budaya di Kalurahan Gilangharjo saat ini menunjukkan kemajuan yang sangat baik. Banyak generasi muda mulai muncul dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan seni budaya.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, ia aktif membagikan kegiatan berkesenian melalui berbagai media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram. Selain itu, ia juga berusaha mengikuti berbagai kegiatan dan event seni budaya yang diselenggarakan di berbagai tempat.
Anisa meyakini bahwa nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur harus terus dijaga dan diteruskan kepada generasi muda. Berbagai tradisi, upacara adat, ritual budaya, serta seni pertunjukan tradisional merupakan kekayaan yang memiliki nilai penting bagi identitas masyarakat.
Menurutnya, seluruh kesenian klasik dan tradisional perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak tergerus perkembangan zaman. Meskipun saat ini seni tradisi harus bersaing dengan berbagai hiburan modern seperti K-Pop, dangdut koplo, hingga fenomena sound horeg, ia tetap optimistis bahwa seni budaya lokal akan terus hidup apabila mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Ia berharap pemerintah kalurahan dapat terus mewadahi, melindungi, dan mendukung kegiatan seni budaya yang ada di masyarakat. Dengan dukungan tersebut, seni budaya di Gilangharjo dapat terus berkembang dan melahirkan generasi penerus yang mencintai warisan leluhur.
Kepada generasi muda, Anisa berpesan agar tidak pernah bosan belajar dan terus bersemangat menghidupkan seni budaya lokal.
“Tetap semangat, terus belajar, jangan bosan untuk menghidupkan seni budaya lokal,” pesannya.
Menutup wawancara, Anisa menyampaikan harapannya agar setiap kegiatan besar yang diselenggarakan di tingkat kalurahan dapat memberikan ruang bagi pertunjukan seni tradisi.
“Kalau bisa setiap acara besar desa menyertakan pertunjukan seni seperti karawitan, tari, ketoprak, dan wayang kulit. Dengan begitu seni budaya lokal akan terus hidup, lestari, dan semakin dicintai masyarakat,” tuturnya.
Melalui dedikasi dan semangat yang dimilikinya, Anisa Mulia Istiqomah menjadi salah satu contoh generasi muda Gilangharjo yang turut menjaga nyala api kebudayaan Jawa agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.