Pentas Ketoprak Pamong Meriahkan Malam Puncak Hari Jadi ke-80 Gilangharjo, Lakon Ledhek Sariti Babad Majapahit Memikat Penonton

04 November 2026
Administrator
Dibaca 3 Kali
Pentas Ketoprak Pamong Meriahkan Malam Puncak Hari Jadi ke-80 Gilangharjo, Lakon Ledhek Sariti Babad Majapahit Memikat Penonton

GILANGHARJO – Malam puncak peringatan Hari Jadi Kalurahan Gilangharjo ke-80 pada Jumat malam (30/10/2026) berlangsung meriah dengan sajian pentas ketoprak oleh keluarga besar Pemerintah Kalurahan Gilangharjo. Bertempat di Pendapa Balai Budaya Gilangharjo, pertunjukan mengangkat lakon “Ledhek Sariti Babad Majapahit” dengan melibatkan unsur pamong kalurahan, para dukuh, serta Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal) Gilangharjo.

Pentas ini menjadi salah satu sajian istimewa dalam rangkaian peringatan delapan dekade perjalanan Kalurahan Gilangharjo. Para pelaku pemerintahan yang sehari-hari menjalankan tugas pelayanan dan penyelenggaraan pemerintahan, pada malam tersebut mengambil peran berbeda dengan tampil sebagai pemain ketoprak. Mereka berkolaborasi menghadirkan pertunjukan seni tradisional yang menghibur sekaligus memperkuat suasana kebersamaan.

Lakon “Ledhek Sariti Babad Majapahit” dipilih sebagai sajian yang membawa penonton menikmati kisah berlatar sejarah dan kebudayaan Jawa. Cerita disampaikan melalui perpaduan dialog, karakter tokoh, adegan dramatik, serta unsur khas pertunjukan ketoprak. Kehadiran para pemain dari berbagai unsur kelembagaan kalurahan memberikan warna tersendiri, terlebih karena mereka tampil bukan dalam kapasitas sebagai pejabat atau pelaksana pemerintahan, melainkan sebagai bagian dari kelompok seni yang menghidupkan panggung.

Salah satu hal menarik dari pertunjukan ini adalah pengemasan lakon yang dibuat lebih padat dengan durasi sekitar dua jam. Penyajian yang terukur tersebut membuat alur cerita dapat dinikmati secara utuh tanpa harus berlangsung hingga larut malam atau semalam suntuk. Ritme pertunjukan yang dijaga tetap dinamis turut membantu mempertahankan perhatian penonton, sehingga suasana tetap hidup dan penonton dapat mengikuti jalannya cerita hingga akhir.

Pilihan durasi tersebut menjadi pendekatan tersendiri dalam menghadirkan seni tradisional di tengah masyarakat. Ketoprak tetap mempertahankan kekuatan cerita, dialog, dan unsur dramatiknya, tetapi dikemas dengan mempertimbangkan kenyamanan penonton. Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan bagi pencinta seni tradisi, tetapi juga dapat dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Keterlibatan pamong, dukuh, dan Bamuskal dalam pentas ini juga memiliki makna penting bagi kehidupan kelembagaan di Kalurahan Gilangharjo. Kolaborasi di atas panggung menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai unsur pemerintahan dan lembaga kalurahan dalam suasana yang lebih cair. Di luar rutinitas pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing, mereka menunjukkan bahwa semangat gotong royong dapat diwujudkan melalui kegiatan seni dan kebudayaan.

Lebih dari sekadar hiburan malam puncak, pentas ketoprak ini menjadi bentuk partisipasi langsung unsur pemerintahan kalurahan dalam merawat kesenian tradisional. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui penyelenggaraan acara atau menjadi penonton, tetapi juga membutuhkan keterlibatan nyata untuk menjaga agar seni tradisi tetap hidup dan memiliki ruang pertunjukan.

Pendapa Balai Budaya Gilangharjo pun menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan kebersamaan masyarakat. Melalui pertunjukan tersebut, peringatan Hari Jadi ke-80 tidak hanya menghadirkan kemeriahan perayaan, tetapi juga memberikan pesan bahwa kebudayaan merupakan bagian penting dari identitas dan perjalanan sebuah kalurahan.

Pentas “Ledhek Sariti Babad Majapahit” menjadi salah satu penanda bahwa semangat membangun Gilangharjo tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik dan pelayanan pemerintahan. Kebersamaan, kreativitas, serta komitmen menjaga warisan budaya juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju Gilangharjo yang semakin maju tanpa meninggalkan akar tradisinya.