Malam Puncak Hari Jadi ke-80 Gilangharjo Meriah dengan Pentas Seni Lintas Generasi
GILANGHARJO – Malam puncak peringatan Hari Jadi Kalurahan Gilangharjo ke-80 pada Jumat (30/10/2026) berlangsung meriah dengan beragam pertunjukan seni dan budaya di Pendapa Balai Budaya Gilangharjo. Menghadirkan penampil dari berbagai kelompok dan komunitas seni lokal, acara ini menjadi ruang ekspresi sekaligus perayaan kebersamaan masyarakat melalui kekayaan seni tradisi dan kreativitas warga.
Rangkaian pertunjukan menampilkan potensi seni dari berbagai kalangan, mulai dari kelompok PKK, para pendidik PAUD, anak-anak, hingga penampil dewasa. Pergelaran dibuka dengan sajian panembrama oleh TP PKK Kalurahan Gilangharjo yang menghadirkan nuansa tradisi dan menjadi pembuka suasana malam perayaan.
Kemudian, panggung dilanjutkan dengan penampilan Angklung Laras Gilang, kelompok yang beranggotakan para guru PAUD se-Kalurahan Gilangharjo. Sajian musik angklung tersebut memperlihatkan kreativitas para pendidik di luar aktivitas pendidikan sehari-hari. Melalui musik dan kekompakan permainan, mereka turut memberikan warna tersendiri dalam perayaan sekaligus menunjukkan bahwa potensi seni tumbuh dari berbagai lingkungan masyarakat.
Suasana semakin semarak dengan penampilan tari dari anak-anak hingga orang dewasa yang dibawakan oleh Sanggar Yupita Krekah. Keberagaman usia penari menjadi gambaran proses pembelajaran dan regenerasi seni yang berlangsung di tengah masyarakat. Anak-anak mendapatkan ruang untuk menampilkan keberanian dan kreativitasnya, sementara penampil dewasa turut menunjukkan bahwa seni tari tetap menjadi ruang berkarya lintas generasi.
Puncak rangkaian pertunjukan ditutup dengan pentas ketoprak pamong Kalurahan Gilangharjo yang mengangkat lakon “Ledhek Sariti Babad Majapahit”. Pertunjukan ini melibatkan unsur pamong kalurahan, para dukuh, serta Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal) Gilangharjo. Kehadiran mereka di atas panggung menjadi daya tarik tersendiri, memperlihatkan sisi lain dari para pelaksana pemerintahan dan kelembagaan kalurahan yang turut mengambil bagian dalam pelestarian seni tradisional.
Lakon ketoprak dikemas secara padat dengan durasi sekitar dua jam. Penyajian yang tidak berlangsung semalam suntuk ini membuat penonton dapat menikmati alur cerita secara utuh tanpa merasa jenuh. Pertunjukan pun menjadi penutup yang kuat bagi rangkaian malam puncak, sekaligus menghadirkan hiburan yang dekat dengan tradisi dan kehidupan budaya masyarakat Jawa.
Sepanjang acara, antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya warga yang hadir dan mengikuti berbagai sajian hingga rangkaian pertunjukan berakhir. Beragam penampilan yang disuguhkan menjadikan malam puncak bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang perjumpaan masyarakat untuk menikmati, mendukung, dan mengapresiasi potensi seni budaya yang tumbuh di Kalurahan Gilangharjo.
Keterlibatan berbagai kelompok seni dalam satu panggung menunjukkan bahwa kekuatan kebudayaan Gilangharjo berada pada partisipasi masyarakatnya. PKK, para guru PAUD, sanggar seni, hingga unsur pamong dan Bamuskal mengambil peran sesuai potensi masing-masing. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan secara bersama-sama, dengan melibatkan berbagai kelompok usia dan latar belakang.
Peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo pun menjadi momentum untuk semakin memperkuat ruang tumbuh bagi seni dan budaya lokal. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi para pelaku seni untuk tampil, mengembangkan kreativitas, serta menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perkembangan zaman.
Melalui malam puncak yang berlangsung meriah dan penuh antusiasme ini, Pemerintah Kalurahan Gilangharjo berharap semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal terus terpelihara. Delapan puluh tahun perjalanan Gilangharjo bukan hanya tentang sejarah dan pembangunan, tetapi juga tentang masyarakat yang terus menjaga identitas, tradisi, dan kebudayaannya.