Mbah Ngadimin, Wiraswara dan Pelestari Macapat dari Gunting yang Setia Menjaga Warisan Budaya Jawa
Gilangharjo – Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, masih ada sosok-sosok yang dengan setia menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus. Salah satu di antaranya adalah Mbah Ngadimin, seniman karawitan dan macapat asal Padukuhan Gunting RT 03, Kalurahan Gilangharjo, yang hingga kini tetap aktif berkesenian dengan semangat yang tak pernah padam.
Lahir di Bantul pada tahun 1963, Mbah Ngadimin telah menekuni dunia karawitan dan seni macapat sejak usia 25 tahun. Perjalanannya dalam dunia seni berangkat dari kecintaan terhadap budaya Jawa serta kesadaran bahwa warisan leluhur harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi Mbah Ngadimin, macapat bukan sekadar lantunan tembang, melainkan sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, tuntunan moral, dan filosofi luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Sementara karawitan menjadi media untuk memperkuat rasa kebersamaan, memperhalus budi pekerti, dan memperkaya kehidupan budaya masyarakat.
Dalam memperdalam kemampuan berkesenian, Mbah Ngadimin dikenal sebagai sosok yang tekun belajar secara mandiri. Ia banyak menghabiskan waktu dengan membaca berbagai buku dan referensi yang dimilikinya untuk memahami teknik vokal, pakem tembang, hingga makna yang terkandung dalam setiap jenis macapat.
Perjalanan belajarnya semakin berkembang berkat bimbingan Bapak Sardjiyono BA, guru macapat yang menjadi sosok penting dalam perjalanan keseniannya. Dari sang guru, ia memperoleh banyak ilmu tentang teknik wiraswara, penghayatan tembang, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni macapat.
Kemampuan utama yang dimiliki Mbah Ngadimin adalah sebagai wiraswara, yakni pelantun tembang Jawa yang mampu membawakan berbagai jenis macapat dengan penguasaan vokal dan penghayatan yang baik. Kemampuan tersebut terus diasah selama puluhan tahun melalui latihan, pementasan, dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan budaya.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah keterlibatan dalam tradisi Baritan Sendang Plempoh, sebuah tradisi budaya masyarakat yang diselenggarakan setiap tahun. Dalam kegiatan tersebut, seni macapat dan karawitan menjadi bagian penting yang memperkuat nuansa spiritual, kebersamaan, serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan oleh leluhur.
Menurut Mbah Ngadimin, seni macapat dan karawitan merupakan budaya adiluhung yang memiliki nilai tinggi dan perlu terus dilestarikan. Ia merasa bangga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya Jawa di tengah berbagai tantangan zaman.
Ia melihat perkembangan seni dan budaya di Gilangharjo saat ini cukup baik dan terus menunjukkan kemajuan. Berbagai kegiatan budaya masih rutin dilaksanakan dan mendapat perhatian dari masyarakat. Namun demikian, tantangan terbesar yang dihadapi adalah semakin kuatnya pengaruh budaya luar yang perlahan menggeser minat generasi muda terhadap budaya tradisional.
Karena itu, Mbah Ngadimin berharap pemerintah kalurahan maupun berbagai pihak dapat terus memberikan ruang, wadah, dan fasilitas bagi para seniman untuk berkarya. Menurutnya, dukungan tersebut sangat penting agar kegiatan seni budaya tetap berjalan dan mampu menarik minat generasi muda.
“Seniman perlu diberi ruang untuk berkarya dan tampil di tengah masyarakat agar kesenian tradisional tetap hidup serta dikenal oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia berharap proses regenerasi dapat terus berjalan sehingga ilmu dan pengalaman yang dimiliki para seniman senior tidak berhenti begitu saja. Baginya, pelestarian budaya akan berhasil apabila ada generasi muda yang bersedia belajar, mencintai, dan meneruskan warisan yang telah ada.
Di usianya yang kini lebih dari enam dekade, Mbah Ngadimin masih aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya. Semangatnya dalam melestarikan karawitan dan macapat menjadi teladan bahwa kecintaan terhadap budaya tidak mengenal batas usia.
Kepada generasi muda Gilangharjo, ia berpesan agar tetap bangga terhadap budaya sendiri dan tidak melupakan jati diri sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya luar biasa.
“Jangan sampai lupa dengan budaya sendiri, dan jangan sampai kalah dengan bangsa asing. Budaya Jawa memiliki nilai luhur yang harus terus kita jaga dan lestarikan bersama,” pesannya.
Dedikasi Mbah Ngadimin selama puluhan tahun menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui hal-hal besar. Ketekunan dalam belajar, kesediaan berbagi ilmu, serta konsistensi menjaga tradisi merupakan kontribusi nyata yang menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh budaya yang patut dihormati dan menjadi inspirasi bagi masyarakat Gilangharjo.