Mendalami Tradisi Ujung Masih Hidup di Tengah Pemuda-Pemudi Gilangharjo, Jaga Silaturahmi Lintas Generasi
Gilangharjo, Di tengah perubahan sosial yang terus bergerak cepat, tradisi silaturahmi saat Lebaran masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga sekarang adalah “ujung”, istilah yang akrab di telinga masyarakat Jawa untuk menyebut kegiatan sungkem atau silaturahmi dari yang lebih muda kepada yang lebih tua setelah Hari Raya Idulfitri.
Fenomena ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga memiliki makna sosial dan psikologis yang kuat. Di wilayah Kalurahan Gilangharjo, tradisi “ujung” masih terus dijaga oleh masyarakat, termasuk oleh generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai penghormatan kepada orang yang lebih tua masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya dilakukan dalam lingkup keluarga. Di beberapa padukuhan, termasuk di Padukuhan Karanggede, kegiatan silaturahmi juga dilakukan secara kolektif oleh organisasi muda-mudi setempat. Salah satu yang masih konsisten menjalankan tradisi tersebut adalah Muda-Mudi Karanggede (MUDIKAR).
Setiap Lebaran, anggota Muda-Mudi Karanggede (MUDIKAR) tidak hanya melakukan sungkem kepada orang tua masing-masing, tetapi juga secara bersama-sama mendatangi tokoh masyarakat yang dituakan. Mereka menyambangi Ketua RT, Dukuh, anggota Bamuskal, tokoh agama, tokoh akademisi, serta tokoh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga hubungan sosial antarwarga.
Jika dilihat dari sisi sosial, tradisi ini memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan hubungan antar generasi. Di tengah gaya hidup modern yang cenderung individualis, kegiatan seperti “ujung” justru menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi sosial secara langsung. Generasi muda tidak hanya mengenal tokoh masyarakat melalui nama atau jabatan, tetapi juga membangun kedekatan secara personal.
Dari sisi psikologis, tradisi sungkem atau silaturahmi ini juga memiliki dampak yang cukup besar. Bagi generasi muda, kegiatan ini menumbuhkan rasa hormat, empati, dan kesadaran sosial. Sementara bagi para tokoh masyarakat dan orang tua, kedatangan generasi muda menjadi bentuk penghargaan yang memberikan rasa dihormati dan diakui perannya di tengah masyarakat.
Di Kalurahan Gilangharjo sendiri, tradisi ini masih terlihat kuat karena didukung oleh peran organisasi kepemudaan yang aktif menjaga nilai-nilai sosial masyarakat. Kegiatan “ujung” yang dilakukan secara bersama-sama juga menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga budaya yang sudah diwariskan sejak lama.
Keberlanjutan tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya Jawa masih mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Tradisi silaturahmi yang dilakukan secara kolektif oleh generasi muda di Padukuhan Karanggede memperlihatkan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat saat ini.
Dengan masih berlangsungnya tradisi “ujung” hingga sekarang, masyarakat berharap nilai kebersamaan, rasa hormat, dan kepedulian sosial tetap terjaga. Kegiatan yang dilakukan oleh Muda-Mudi Karanggede (MUDIKAR) ini sekaligus menjadi bukti bahwa generasi muda di Karanggede tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga tetap menjaga akar budaya yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.