Perwakilan UNY Tampil Memukau di Lomba Tari UNDIKSA, Digawangi Potensi Seni Gilangharjo
Gilangharjo — Pendapa Balai Budaya Gilangharjo kembali menjadi ruang perjumpaan kreativitas dan prestasi seni. Pada akhir Januari lalu, lokasi ini menjadi tempat pengambilan video lomba tari yang diikuti oleh perwakilan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam ajang lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSA).
Tim penampil menampilkan komposisi tari yang kuat secara visual dan dramatik, sebagaimana tergambar dalam foto: formasi kokoh, ekspresi tajam, serta kostum yang mengakar pada tradisi namun dikemas dengan pendekatan koreografi kontemporer. Penampilan ini menjadi bukti bahwa seni pertunjukan mahasiswa tidak hanya mengandalkan teknik, tetapi juga pemaknaan dan disiplin artistik.
Yang menarik, kegiatan ini digawangi oleh salah satu potensi seni Kalurahan Gilangharjo, Kidung Kusumastuti, yang berperan penting dalam proses kreatif dan pengawalan artistik. Keterlibatan figur lokal ini menunjukkan bahwa desa tidak sekadar menjadi latar tempat, tetapi turut berkontribusi aktif dalam produksi karya seni yang berkiprah di level antarperguruan tinggi.
Proses pengambilan video dilakukan sejak siang hingga malam hari. Pendapa Balai Budaya Gilangharjo dipilih karena karakter ruangnya yang representatif: terbuka, berakar pada budaya, sekaligus mampu mendukung kebutuhan teknis visual lomba. Selama proses berlangsung, tim penari menjalani pengambilan gambar dengan intensitas tinggi, menjaga konsistensi gerak dan ekspresi hingga sesi terakhir.
Ajang lomba yang diinisiasi UNDIKSA ini menjadi ruang adu gagasan dan kualitas artistik antarkampus. Bagi UNY, keikutsertaan ini bukan sekadar partisipasi, melainkan upaya menjaga tradisi akademik seni yang berpijak pada kolaborasi dan pengabdian ruang budaya lokal.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi Gilangharjo sebagai simpul penting aktivitas seni pertunjukan. Balai Budaya tidak hanya difungsikan untuk agenda lokal, tetapi juga dipercaya sebagai ruang produksi karya yang bersaing di tingkat nasional. Kehadiran potensi lokal seperti Kidung Kusumastuti memperkuat narasi bahwa desa memiliki sumber daya seni yang mampu menjembatani dunia akademik dan ruang budaya masyarakat.
Dengan berakhirnya proses pengambilan video tersebut, Gilangharjo kembali mencatatkan perannya—bukan hanya sebagai penonton seni, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kreatif yang melahirkan karya, prestasi, dan regenerasi pelaku seni pertunjukan.