Simbar Galeng Etnic Matangkan Persiapan Pentas Selasa Wagen, Usung Konsep Javanese Rhapsody

01 November 2026
Administrator
Dibaca 1 Kali
Simbar Galeng Etnic Matangkan Persiapan Pentas Selasa Wagen, Usung Konsep Javanese Rhapsody

GILANGHARJO — Kelompok musik etnik asal Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Simbar Galeng Etnic, mematangkan persiapan untuk tampil dalam agenda Selasa Wagen di Teras Malioboro 2, Yogyakarta, pada Selasa (3/11/2026). Persiapan dilakukan melalui latihan bersama di Balai Budaya Gilangharjo pada Minggu (25/10/2026), dengan fokus pada pemantapan komposisi, kekompakan antarpemain, serta perpaduan instrumen tradisional dan modern.

Mengusung konsep Javanese Rhapsody, Simbar Galeng Etnic akan menghadirkan sajian musik yang berangkat dari akar karawitan Jawa, kemudian dikembangkan melalui eksplorasi berbagai instrumen dan karakter musikal. Seluruh personel yang terlibat merupakan warga lokal Gilangharjo, menjadikan penampilan ini sebagai representasi potensi kreatif masyarakat yang tumbuh dan berkembang dari lingkungan sendiri.

Simbar Galeng Etnic hadir sebagai wadah kreativitas seni musik yang mempertemukan potensi seniman muda lokal, baik dari kalangan pelaku musik tradisi maupun musisi modern. Kelompok ini dibangun sebagai ruang persaudaraan, kolaborasi, dan pengembangan karya bersama, dengan keyakinan bahwa perbedaan latar belakang musikal dapat menjadi kekuatan untuk melahirkan ekspresi seni yang lebih beragam.

Nama Simbar Galeng sendiri terinspirasi dari tembung wangsalan dalam sindenan gending karawitan, “Simbar Galeng kadhang werdhaning Lesmana, dhen rumaket kekadhangan mring sesama.” Ungkapan tersebut membawa pesan tentang eratnya persaudaraan dan kedekatan antarsesama. Nilai itulah yang menjadi ruh kelompok dalam menyatukan beragam potensi ke dalam satu wadah berkesenian.

Secara musikal, karawitan menjadi pijakan utama dalam eksplorasi Simbar Galeng Etnic. Gamelan dipadukan dengan instrumen musik modern dan brass section untuk membangun karakter bunyi yang khas. Campursari dan gending dolanan tidak hanya disajikan dalam bentuk konvensional, tetapi juga diolah melalui pendekatan pop alternatif, funk, dangdut, salsa, keroncong, jazz, dan berbagai warna musikal lainnya.

Perpaduan tersebut menjadi upaya untuk menjaga tradisi tetap hidup sekaligus membuka ruang inovasi. Gamelan tidak ditempatkan semata-mata sebagai warisan yang harus dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi yang dapat berdialog dengan perkembangan musik masa kini. Melalui pendekatan ini, Simbar Galeng Etnic berusaha menghadirkan musik Jawa yang tetap berakar pada identitas budaya, namun memiliki ruang apresiasi yang lebih luas.

Latihan di Balai Budaya Gilangharjo menjadi bagian penting dari proses kreatif tersebut. Setiap personel perlu membangun keselarasan permainan, menjaga karakter instrumen masing-masing, serta menyatukan dinamika musikal agar menghasilkan pertunjukan yang utuh. Tantangannya bukan sekadar menggabungkan gamelan dan instrumen modern, melainkan menciptakan komposisi yang tetap memiliki identitas musikal tanpa kehilangan keseimbangan antarelemen.

Pentas di Teras Malioboro 2 mendatang menjadi kesempatan bagi Simbar Galeng Etnic untuk memperkenalkan pendekatan musikal tersebut kepada masyarakat yang lebih luas. Kawasan Malioboro sebagai ruang publik dan tujuan wisata menghadirkan peluang bagi karya seni dari tingkat kalurahan untuk bertemu dengan beragam penonton, sekaligus memperlihatkan perkembangan kreativitas budaya yang tumbuh di wilayah Bantul.

Bagi Kalurahan Gilangharjo, keterlibatan kelompok musik ini juga menunjukkan pentingnya memberikan ruang bagi potensi lokal untuk berkembang. Keberadaan Balai Budaya sebagai tempat latihan dan pengembangan karya dapat menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang mendukung proses kreatif, regenerasi seniman, serta kolaborasi lintas genre.

Meski demikian, keberlanjutan kelompok seni tidak cukup ditopang oleh kesempatan tampil semata. Ruang latihan, konsistensi berkarya, pengembangan kemampuan personel, serta dukungan terhadap produksi dan promosi menjadi faktor penting agar kreativitas lokal dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak ruang pertunjukan.

Melalui konsep Javanese Rhapsody, Simbar Galeng Etnic membawa semangat untuk merawat akar budaya sekaligus merangkai bunyi-bunyi baru tanpa dibatasi sekat genre. Dari Gilangharjo, mereka berupaya menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang berhenti di masa lalu, melainkan sumber kreativitas yang dapat terus berkembang melalui kolaborasi dan keberanian bereksplorasi.