Gilangharjo Bersholawat Meriahkan Hari Jadi ke-80, Kiai Kanjeng Hadirkan Nuansa Religi dan Kebersamaan

14 Oktober 2026
Administrator
Dibaca 7 Kali
Gilangharjo Bersholawat Meriahkan Hari Jadi ke-80, Kiai Kanjeng Hadirkan Nuansa Religi dan Kebersamaan

GILANGHARJO – Ribuan masyarakat memadati kawasan Balai Budaya Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, pada Selasa malam, 13 Oktober 2026, dalam kegiatan Gilangharjo Bersholawat. Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo, kegiatan ini menghadirkan grup musik religi Kiai Kanjeng serta tausiyah dari Ustaz Miko Cak Coy yang mengajak masyarakat, khususnya para pamong, untuk meneguhkan keikhlasan dalam pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan berlangsung dalam suasana religius dan penuh kebersamaan. Hadir dalam acara tersebut KPH Yudanegara, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bantul, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkopimkap) Pandak, serta seluruh elemen masyarakat dari Kalurahan Gilangharjo dan wilayah sekitarnya. Kehadiran berbagai unsur tersebut menambah makna kegiatan sebagai ruang silaturahmi yang mempertemukan pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga dalam satu majelis selawat.

Penampilan grup musik Kiai Kanjeng menjadi salah satu daya tarik utama dalam kegiatan tersebut. Melalui perpaduan musik, lantunan selawat, dan nuansa budaya yang khas, Kiai Kanjeng menghadirkan suasana yang mengajak jamaah untuk berselawat bersama sekaligus mempererat hubungan antarsesama. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang menyatukan beragam kalangan dalam suasana yang hangat dan penuh kekhidmatan.

Selain lantunan selawat, tausiyah yang disampaikan Ustaz Miko Cak Coy menjadi bagian penting dalam rangkaian acara. Dalam ceramahnya, ia mengangkat tema keikhlasan dalam pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi para pamong yang menjalankan tugas pelayanan pemerintahan di tingkat kalurahan.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa menjadi pamong bukan semata-mata menjalankan pekerjaan atau memenuhi kewajiban administratif, melainkan juga mengemban amanah untuk melayani masyarakat. Pengabdian membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan kesediaan untuk mendahulukan kepentingan warga di atas kepentingan pribadi.

Keikhlasan dalam melayani juga tercermin melalui sikap sehari-hari, mulai dari kesungguhan mendengarkan keluhan masyarakat, memberikan pelayanan secara adil, hingga berupaya mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga. Seorang pamong dituntut tidak hanya hadir sebagai pelaksana pemerintahan, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang memahami kebutuhan dan ikut merasakan dinamika kehidupan warganya.

Pesan tausiyah tersebut relevan dengan momentum peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo. Bertambahnya usia kalurahan bukan sekadar penanda perjalanan sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi pengabdian dan memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan yang lebih baik. Kemajuan kalurahan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas pelayanan, keharmonisan sosial, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Kehadiran KPH Yudanegara, jajaran Forkopimkap Pandak, unsur pemerintah daerah, serta masyarakat dari berbagai wilayah turut memperkuat semangat kebersamaan dalam kegiatan tersebut. Gilangharjo Bersholawat menjadi ruang untuk membangun silaturahmi sekaligus meneguhkan nilai religius dan sosial yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi Pemerintah Kalurahan Gilangharjo, peringatan hari jadi ke-80 menjadi momentum untuk melanjutkan perjalanan pembangunan dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya, tradisi, dan kebersamaan. Kegiatan keagamaan seperti ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat sekaligus menghadirkan ruang refleksi mengenai pentingnya ketulusan dalam menjalankan amanah.

Melalui Gilangharjo Bersholawat, semangat memperingati delapan dekade perjalanan Kalurahan Gilangharjo diwujudkan tidak hanya melalui kemeriahan acara, tetapi juga melalui pesan spiritual tentang keikhlasan, persaudaraan, dan pengabdian. Lantunan selawat dan tausiyah yang disampaikan diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh pihak bahwa membangun kalurahan membutuhkan kerja bersama, hati yang tulus, serta komitmen untuk terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Dengan semangat tersebut, peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat pelayanan publik, menjaga kerukunan, melestarikan budaya, dan mendorong terwujudnya masyarakat yang semakin sejahtera.