Sanggar-Sanggar Seni dan Sekolah di Gilangharjo Turut Meriahkan Dewi Kajii Culture Fest 2026

03 Oktober 2026
Administrator
Dibaca 8 Kali
Sanggar-Sanggar Seni dan Sekolah di Gilangharjo Turut Meriahkan Dewi Kajii Culture Fest 2026

GILANGHARJO – Dewi Kajii Culture Fest (DKCF) 2026 tidak hanya menghadirkan potensi wisata, UMKM, dan ikan hias, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi sanggar seni dan sekolah untuk menampilkan kekayaan seni budaya masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, 25–27 September 2026, sejumlah kelompok seni dan pelajar turut ambil bagian dalam rangkaian pertunjukan di Meeting Point Dewi Kajii, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak.

Keterlibatan berbagai kelompok seni tersebut membuat suasana festival semakin beragam. Mulai dari karawitan, tari, jathilan, reog, angklung, hingga pertunjukan musik dangdut dan parodi, seluruhnya hadir sebagai bagian dari upaya menghidupkan ruang budaya sekaligus memberikan kesempatan kepada pelaku seni untuk tampil di hadapan masyarakat.

Rangkaian pertunjukan diawali pada hari pertama, Jumat (25/9), dengan penampilan Sanggar Karawitan Ngudi Laras. Alunan gamelan dan karawitan Jawa menjadi salah satu sajian yang membuka atmosfer budaya dalam pelaksanaan DKCF 2026.

Pada rangkaian praacara hari pertama, Sanggar Tari Yupita juga menampilkan repertoar tari sebagai bagian dari pertunjukan seni. Sanggar yang sama kembali hadir pada malam hari kedua dengan menyajikan repertoar lainnya, sehingga total terdapat empat repertoar tari yang ditampilkan dalam rangkaian DKCF 2026.

Memasuki hari kedua, Sabtu (26/9), panggung DKCF semakin semarak dengan hadirnya kesenian tradisional masyarakat Kadisoro. Pada siang hari, Reog Kadisoro tampil membawa energi kesenian rakyat ke tengah festival. Ditampilkan juga tari tunggal dari warga kadisoro, Cinta yang membawakan tari klasik Langen Sekar Sumawur. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu bentuk keberlanjutan tradisi seni lokal yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Malam harinya, giliran Sanggar Seni Kenya Menik tampil membawakan tari kerakyatan berupa jathilan. Pertunjukan jathilan menjadi salah satu sajian yang menarik perhatian pengunjung karena menghadirkan karakter kesenian rakyat yang lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Yogyakarta.

Keterlibatan sanggar seni dalam DKCF 2026 menunjukkan bahwa festival budaya tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan antara pelaku seni, masyarakat, dan wisatawan. Panggung yang tersedia memberikan kesempatan kepada kelompok seni lokal untuk terus berekspresi sekaligus memperkenalkan kesenian mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Tidak hanya kelompok seni, dunia pendidikan juga turut mengambil bagian. Pada hari ketiga, Minggu (27/9) siang, SD Muhammadiyah Kadisoro II (MUKADA) tampil dengan perpaduan pertunjukan angklung dan tari. Penampilan para siswa menjadi bagian penting dalam rangkaian festival karena memperlihatkan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kebudayaan di lingkungan Kadisoro.

Kehadiran pelajar di panggung DKCF sekaligus menjadi ruang pembelajaran di luar sekolah. Anak-anak mendapatkan pengalaman untuk tampil di hadapan publik, sementara masyarakat dapat melihat bagaimana seni dan budaya diperkenalkan serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rangkaian pertunjukan kemudian ditutup pada Minggu sore oleh Orkes Musik Gemar Memberi Senyum (OM GEMES) dari Bongsren. Kelompok musik yang mengusung konsep dangdut jadul dan parodi tersebut menghadirkan suasana hiburan yang lebih santai sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian DKCF 2026.

Beragamnya pertunjukan yang hadir selama tiga hari menunjukkan bahwa potensi budaya di sekitar Kadisoro dan Gilangharjo memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan bersamaan dengan potensi pariwisata. Keterlibatan sanggar seni, kelompok kesenian rakyat, sekolah, hingga komunitas musik lokal juga memperkuat karakter DKCF sebagai kegiatan yang tumbuh bersama masyarakat.

Melalui panggung budaya seperti DKCF 2026, kesenian lokal tidak hanya dipertontonkan sebagai bagian dari acara, tetapi mendapatkan ruang untuk terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi yang lebih muda. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut turut membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dan mendapatkan manfaat dari aktivitas budaya dan pariwisata yang berlangsung di Kadisoro.

Dengan demikian, Dewi Kajii Culture Fest 2026 menjadi salah satu ruang perjumpaan antara budaya, pendidikan, pariwisata, dan masyarakat, sekaligus memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah festival tidak hanya terletak pada kemeriahan acaranya, tetapi juga pada keterlibatan warga dan komunitas yang menghidupkannya.