Sambut Hari Jadi ke-80, Gilangharjo Hidupkan Kembali Nilai Budaya Lewat Pentas Seni dan Sandhiwara Jawa

01 Oktober 2026
Administrator
Dibaca 5 Kali
Sambut Hari Jadi ke-80, Gilangharjo Hidupkan Kembali Nilai Budaya Lewat Pentas Seni dan Sandhiwara Jawa

GILANGHARJO – Aula Kalurahan Gilangharjo berubah menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan masyarakat pada Senin (28/9/2026) malam. Menyambut Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo, Pemerintah Kalurahan Budaya Gilangharjo bersama Sanggar Seni Budaya Griya Aksara menggelar Pentas Seni dan Sandhiwara Bahasa Jawa, menghadirkan rangkaian kesenian tradisional sekaligus pesan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dimulai pukul 20.00 WIB, pagelaran tersebut menghadirkan Macapat, Geguritan, hingga pertunjukan utama Sandhiwara Bahasa Jawa dengan lakon “Ajining Diri Saka Lakuning Pribadi”. Kegiatan ini didukung oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) serta Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Lurah Gilangharjo beserta Pamong Kalurahan, Bamuskal, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Gilangharjo, pelaku seni, mitra kebudayaan, serta masyarakat. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa peringatan Hari Jadi ke-80 tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan kebudayaan yang tumbuh di lingkungannya.

Bagi Pemerintah Kalurahan Gilangharjo, kebudayaan menjadi bagian penting dari perjalanan kalurahan yang telah memasuki usia delapan dekade. Sebagai Kalurahan Budaya, pelestarian seni tradisional tidak ditempatkan sebatas sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Lurah Gilangharjo, Drs. H. Pardiyono menyampaikan bahwa momentum Hari Jadi ke-80 menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan Gilangharjo sekaligus menjaga kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

“Hari Jadi ke-80 bukan hanya tentang bertambahnya usia Gilangharjo, tetapi juga bagaimana kita menjaga apa yang menjadi identitas dan warisan masyarakat. Kesenian dan budaya harus terus diberi ruang agar tetap hidup dan dapat dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Lurah Gilangharjo.

Pesan tersebut tercermin dalam lakon “Ajining Diri Saka Lakuning Pribadi”. Melalui Sandhiwara Bahasa Jawa, nilai tentang perilaku, sikap, dan perjalanan seseorang disampaikan dalam bentuk pertunjukan yang komunikatif dan dekat dengan masyarakat.

Perwakilan Sanggar Seni Budaya Griya Aksara menyampaikan bahwa penggunaan seni pertunjukan sebagai media penyampaian nilai budaya memiliki tantangan tersendiri, terutama bagaimana membuat generasi muda tetap tertarik dengan kesenian tradisional.

“Sandhiwara bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya ada bahasa, unggah-ungguh, cerita, dan nilai kehidupan. Kami ingin kesenian seperti ini tetap bisa dinikmati masyarakat sekaligus menjadi ruang belajar bagi generasi muda,” ungkapnya.

Selain sandhiwara, penampilan Macapat dan Geguritan turut memberikan warna dalam pagelaran malam tersebut. Ketiga bentuk kesenian tersebut memperlihatkan beragam cara tradisi Jawa menyampaikan pesan, baik melalui tembang, sastra lisan, maupun seni peran.

Antusiasme masyarakat yang hadir juga menjadi bagian penting dari keberlangsungan kegiatan. Aula Kalurahan Gilangharjo tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya pemerintah kalurahan, pelaku seni, masyarakat, dan berbagai pihak yang selama ini mendukung pengembangan kebudayaan di Gilangharjo.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat posisi Gilangharjo sebagai Kalurahan Budaya yang terus berupaya menghadirkan kebudayaan dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat. Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga bentuk kesenian yang telah ada, tetapi juga dengan memberikan kesempatan kepada pelaku seni untuk terus berkarya dan kepada masyarakat untuk menjadi bagian dari proses tersebut.

Memasuki usia ke-80, perjalanan Gilangharjo menjadi ruang untuk menghubungkan masa lalu, kehidupan hari ini, dan masa depan. Di tengah perkembangan zaman, panggung seni menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa bahasa, kesenian, tata nilai, dan cerita yang diwariskan antargenerasi tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.

Pentas Seni dan Sandhiwara Bahasa Jawa pun menjadi salah satu warna dalam rangkaian menyambut Hari Jadi ke-80 Gilangharjo. Dari panggung sederhana di Aula Kalurahan, semangat menjaga budaya kembali ditegaskan: bahwa perjalanan panjang sebuah kalurahan tidak hanya tercatat dalam pembangunan dan pemerintahan, tetapi juga dalam kesenian, tradisi, serta nilai-nilai yang terus hidup bersama masyarakat.