Simulasi Penyambutan Juri Dimatangkan, Dewi KAJII Siap Tampilkan Potensi Terbaik pada Lomba Desa Wisata DIY 2026
Gilangharjo – Pengelola Dewi KAJII (Desa Wisata Kadisoro Nyawiji) terus memantapkan persiapan menjelang penilaian Lomba Desa Wisata Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2026. Sebagai bagian dari kesiapan tersebut, pengelola bersama masyarakat menggelar simulasi penyambutan tamu juri pada Minggu (5/7/2026) di sejumlah titik destinasi unggulan yang menjadi bagian dari paket wisata Dewi KAJII.
Kegiatan ini turut didampingi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang selama beberapa waktu terakhir aktif memberikan pendampingan dalam pengembangan potensi wisata, penguatan kelembagaan, serta penyusunan alur kunjungan wisata di Kalurahan Gilangharjo.
Simulasi dilakukan sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan seluruh unsur yang terlibat, mulai dari pemandu wisata, pelaku UMKM, kelompok seni, hingga pengelola destinasi. Dengan latihan ini diharapkan seluruh rangkaian kunjungan juri dapat berjalan lancar, terkoordinasi, dan mampu memberikan pengalaman terbaik kepada tim penilai.
Dewi KAJII merupakan singkatan dari Desa Wisata Kadisoro Nyawiji, sebuah desa wisata yang dikembangkan dengan mengedepankan semangat "nyawiji" atau bersatu dalam membangun potensi lokal. Filosofi tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, kelompok seni budaya, petani, peternak, pelaku ekonomi kreatif, pemerintah kalurahan, hingga perguruan tinggi.
Konsep wisata yang diusung Dewi KAJII tidak hanya menawarkan keindahan pedesaan, tetapi juga menghadirkan pengalaman langsung kepada wisatawan untuk mengenal kehidupan masyarakat, budaya lokal, kearifan lingkungan, serta berbagai aktivitas ekonomi kreatif yang tumbuh dari potensi warga.
Keikutsertaan dalam Lomba Desa Wisata DIY 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan wajah Kadisoro sebagai kawasan wisata berbasis masyarakat yang berkembang melalui gotong royong dan inovasi.
Dalam simulasi tersebut, peserta mengikuti skenario lengkap sebagaimana rencana kunjungan tim juri. Setiap lokasi dipersiapkan secara detail, mulai dari mekanisme penyambutan, penyampaian narasi oleh pemandu, alur perpindahan antar destinasi, hingga pengaturan waktu kunjungan.
Pengelola juga melakukan evaluasi terhadap kesiapan fasilitas pendukung, kebersihan kawasan, kenyamanan tamu, serta koordinasi antar tim di setiap titik kunjungan. Masukan dari pendamping KKN UGM menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan pelayanan dan penyajian informasi sehingga mampu memberikan kesan profesional namun tetap mengedepankan keramahan khas masyarakat Kadisoro.
Simulasi diawali di Angkringan KAJII, salah satu ruang berkumpul masyarakat yang menjadi etalase kuliner khas lokal. Di lokasi ini dipersiapkan konsep penyambutan tamu dengan suasana pedesaan yang hangat, sajian kuliner tradisional, serta interaksi langsung bersama masyarakat sebagai wujud keramahan warga Kadisoro.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju lokasi latihan gamelan, yang menjadi salah satu kekuatan Dewi KAJII dalam melestarikan seni budaya Jawa. Melalui atraksi ini, pengelola ingin menunjukkan bahwa kesenian tradisional di Kadisoro bukan sekadar pertunjukan bagi wisatawan, tetapi merupakan aktivitas budaya yang hidup, berkembang, dan diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi muda.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi kawasan recycle sampah, sebuah program edukasi lingkungan yang memperlihatkan bagaimana masyarakat mengelola sampah melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle. Program ini menjadi bukti bahwa pengembangan desa wisata juga sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan serta membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian dalam simulasi adalah program daur ulang tutup botol plastik yang dikembangkan oleh Dewi KAJII sebagai bagian dari wisata edukasi lingkungan. Berbeda dengan pengelolaan sampah pada umumnya, program ini memanfaatkan tutup botol plastik bekas yang telah dipilah berdasarkan warna untuk kemudian melalui proses pencacahan dan pelelehan menggunakan mesin press panas. Hasilnya berupa lembaran atau papan plastik (plastic board) yang memiliki nilai guna tinggi dan ramah lingkungan.
Destinasi terakhir adalah Visit Farm Ikan Hias, salah satu potensi unggulan ekonomi masyarakat Kadisoro. Di lokasi ini, pengunjung diperkenalkan pada proses budidaya ikan hias, mulai dari pembenihan, pemeliharaan, hingga pemasaran. Selain memberikan nilai edukasi, sektor ini juga menjadi contoh keberhasilan masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang mampu mendukung perekonomian warga.
Dalam kegiatan simulasi ini, mahasiswa KKN UGM berperan aktif memberikan pendampingan kepada pengelola desa wisata, mulai dari penyusunan alur kunjungan, penyampaian narasi wisata (storytelling), pengaturan waktu kunjungan, hingga evaluasi terhadap pengalaman wisata yang akan diterima oleh tim juri.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat identitas Dewi KAJII sebagai desa wisata yang mengedepankan pengalaman autentik berbasis masyarakat.
Melalui simulasi yang dilaksanakan secara menyeluruh, pengelola Dewi KAJII semakin optimistis menghadapi penilaian Lomba Desa Wisata Tingkat DIY Tahun 2026. Persiapan yang matang diharapkan mampu menampilkan seluruh potensi unggulan Desa Wisata Kadisoro Nyawiji secara maksimal, mulai dari kekayaan budaya, kuliner, edukasi lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Lebih dari sekadar mengikuti perlombaan, Dewi KAJII ingin menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah desa wisata tidak hanya diukur dari keindahan destinasinya, tetapi juga dari kuatnya kolaborasi masyarakat dalam mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. Semangat "Nyawiji" yang menjadi filosofi desa wisata ini menjadi fondasi utama dalam menghadirkan pariwisata yang inklusif, edukatif, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kadisoro serta Kalurahan Gilangharjo secara keseluruhan.